Benso.id - Dalam strategi pemasaran tidak bisa dielakkan bahwa kemasan merupakan suatu hal penting. Sejelek apapun isinya jika berhasil dikemas dengan baik dan menarik, tak menutup kemungkinan artikel tersebut akan dibaca banyak orang. Dan memang itulah yang terjadi saat ini.
Dalam istilah blogger, artikel yang menggunakan judul bombastis atau alay disebut sebagai over title, yakni judul yang berlebihan. Cirinya pun mudah untuk diketahui, biasanya artikel-artikel tersebut menggunakan judul lebih dari 7 kata, menambahkan tanda baca secara berlebihan dan juga memakai kata yang sangat hyperbola.
Tujuan dari penggunaan over title tidak lain adalah meraup pengunjung sebanyak-banyaknya dengan artikel sekecil-kecilnya. Mereka tak mementingkan kualitas konten, bahkan cenderung menipu pembaca. Dari judulnya seolah-olah menjelaskan A, tapi setelah dibuka ternyata penjelasannya tentang B. Inilah yang disebut sebagai Hoax.
Namun sayangnya fenomena over title semacam ini sudah semarak dimana-mana. Alih-alih seorang blogger amatiran yang hanya ngejar Adsense, media mainstream pun saat ini juda menggeluti hal tesebut. Sehingga lama kelamaan tidak ada perbedaan antara media amatiran dengan media mainstream yang kalibernya sudah tingkat Nasional.
Bagi seorang blogger sejati, kemasan bukanlah nomor satu, melainkan nomor sekian. Blogger sejati akan menjadikan isi, konten sebagai raja. Tolak ukur kualitas suatu artikel bukan dilihat dari judulnya, akan tetapi dari kualitas kontennya.
Tak perlu jauh-jauh kita merujuk atau mencari contoh, lihat saja bagaimana blognya Mas Sugeng, Panduan IM, Blogodolar atau Bloguebo, mereka semua menomorsatukan konten ketimbang tampilan atau kebombastisan judul artikel.
Jika kita harus mengkritisi, sebetulnya ketika seorang pembaca merasa dikecewakan pada awal pertemuan, maka selanjutnya pembaca tersebut akan ogah-ogahan untuk menemuinya lagi. Begitu pula dengan blog, bila kesan awal yang diberikan pada pembaca adalah kebohongan, maka selanjutnya pembaca itu akan menilai blog tersebut sebagai sampah atau spam semata.
Oleh karenanya sudah saatnya beralih paradigma dari kemasan menuju konten, dari kuantitas menuju kualitas. Akan lebih baik hanya memiliki 10 artikel namun isinya jelas, detail sistematis dan mudah dupahami pembaca, ketimbang memiliki 100 artikel tapi isinya menipu, judulnya alay serta mengecewakan pembaca.
Itulah mengapa seorang blogger bukan hanya dituntut untuk mencari informasi yang baik dan pantas disampaikan saja, melainkan blogger juga dituntut untuk mengelola serta menyampaikannya secara baik dan mudah dipahami. Tak perlu menambah-nambahkan data dan tak perlu menguranginya juga.
Sebelum menutup artikel ini ada sebuah analogi yang sangat istimewa. '5 sapi, sama-sama jenisnya, sama-sama kelaminnya dan sama-sama beratnya, itu harganya juga akan sama. Namun berbeda dengan 5 manusia, meski sama-sama lelakinya, sama-sama beratnya, harganya beda. Sebab harga manusia bukan terletak pada dagingnya, melainkan kualitas akalnya.'
Begitulah dengan blogger, meski sama-sama domain TLD-nya, sama-sama views-nya dan sama-sama desainnya, yang membuatnya menjadi mahal adalah kualitas artikelnya, bukan selainnya. So, semoga dengan artikel sederhana ini kita semua semakin paham dan mulai menitikberatkan pada kualitas konten, bukan ke-alay-an judul artikel.
Dalam istilah blogger, artikel yang menggunakan judul bombastis atau alay disebut sebagai over title, yakni judul yang berlebihan. Cirinya pun mudah untuk diketahui, biasanya artikel-artikel tersebut menggunakan judul lebih dari 7 kata, menambahkan tanda baca secara berlebihan dan juga memakai kata yang sangat hyperbola.
Tujuan dari penggunaan over title tidak lain adalah meraup pengunjung sebanyak-banyaknya dengan artikel sekecil-kecilnya. Mereka tak mementingkan kualitas konten, bahkan cenderung menipu pembaca. Dari judulnya seolah-olah menjelaskan A, tapi setelah dibuka ternyata penjelasannya tentang B. Inilah yang disebut sebagai Hoax.
Namun sayangnya fenomena over title semacam ini sudah semarak dimana-mana. Alih-alih seorang blogger amatiran yang hanya ngejar Adsense, media mainstream pun saat ini juda menggeluti hal tesebut. Sehingga lama kelamaan tidak ada perbedaan antara media amatiran dengan media mainstream yang kalibernya sudah tingkat Nasional.
Bagi seorang blogger sejati, kemasan bukanlah nomor satu, melainkan nomor sekian. Blogger sejati akan menjadikan isi, konten sebagai raja. Tolak ukur kualitas suatu artikel bukan dilihat dari judulnya, akan tetapi dari kualitas kontennya.
Tak perlu jauh-jauh kita merujuk atau mencari contoh, lihat saja bagaimana blognya Mas Sugeng, Panduan IM, Blogodolar atau Bloguebo, mereka semua menomorsatukan konten ketimbang tampilan atau kebombastisan judul artikel.
Jika kita harus mengkritisi, sebetulnya ketika seorang pembaca merasa dikecewakan pada awal pertemuan, maka selanjutnya pembaca tersebut akan ogah-ogahan untuk menemuinya lagi. Begitu pula dengan blog, bila kesan awal yang diberikan pada pembaca adalah kebohongan, maka selanjutnya pembaca itu akan menilai blog tersebut sebagai sampah atau spam semata.
Oleh karenanya sudah saatnya beralih paradigma dari kemasan menuju konten, dari kuantitas menuju kualitas. Akan lebih baik hanya memiliki 10 artikel namun isinya jelas, detail sistematis dan mudah dupahami pembaca, ketimbang memiliki 100 artikel tapi isinya menipu, judulnya alay serta mengecewakan pembaca.
Itulah mengapa seorang blogger bukan hanya dituntut untuk mencari informasi yang baik dan pantas disampaikan saja, melainkan blogger juga dituntut untuk mengelola serta menyampaikannya secara baik dan mudah dipahami. Tak perlu menambah-nambahkan data dan tak perlu menguranginya juga.
Sebelum menutup artikel ini ada sebuah analogi yang sangat istimewa. '5 sapi, sama-sama jenisnya, sama-sama kelaminnya dan sama-sama beratnya, itu harganya juga akan sama. Namun berbeda dengan 5 manusia, meski sama-sama lelakinya, sama-sama beratnya, harganya beda. Sebab harga manusia bukan terletak pada dagingnya, melainkan kualitas akalnya.'
Begitulah dengan blogger, meski sama-sama domain TLD-nya, sama-sama views-nya dan sama-sama desainnya, yang membuatnya menjadi mahal adalah kualitas artikelnya, bukan selainnya. So, semoga dengan artikel sederhana ini kita semua semakin paham dan mulai menitikberatkan pada kualitas konten, bukan ke-alay-an judul artikel.
